100 Hari 100 Video

Konsisten.

Susahnya minta ampun.

Mulai 11 Maret yang lalu saya mencoba membuat tantangan untuk diri sendiri.

Membuat 100 video dalam 100 hari.

1 hari bikin 1 video kemudian mengunggahnya di channel Youtube saya.

Dua hari pertama saya bisa menyelesaikan tantangan saya.

Lalu di hari ketiga, muncullah rasa malas.

Ada saja alasan untuk tidak membuat video berikutnya.

Saya stuck selama dua hari tanpa video baru.

Kemudian di setelah dua hari itu, saya akhirnya memaksa diri bikin video dan saya merasakan bahwa itu video terbaik saya selama challenge program ini berlangsung.

Saya betul-betul percaya diri merekam diri saya.

Semua kata-kata yang muncul dari mulut saya seakan sudah tertata rapi dalam bentuk skrip apik di kepala saya.

Padahal saya tidak menggunakan bantuan teks sama sekali.

Tapi setelah video itu saya unggah…

…muncul kendala baru yang dampaknya tidak hanya kepada saya, tetapi kepada banyak orang.

YA.

CORONA.

Dampaknya sungguh sangat luar biasa.

Dampak yang seharusnya membuat saya lebih punya banyak waktu, karena tempat kerja saya diliburkan selama dua minggu, malah membuat saya down.

Kepala saya kosong. Tidak ada ide untuk bikin video apa.

Malah menghasilkan video yang buruk dari sisi kualitas…

…isi maupun editing.

Suaranya nggak jelas.

Saya kemudian memutuskan stop bikin video sampai hari ini.

Saya lalu merenung…

…mencoba belajar dari pengalaman men-challenge diri sendiri.

Saya mendapat beberapa kesimpulan yang saya merasa ini sangat berharga dan bermanfaat untuk pengembangan diri dan produktivitas saya ke depannya.

Konsisten Mengalahkan Teknis

Mulai hari ini saya memutuskan untuk lebih mengutamakan konsistensi ketimbang memikirkan teknis.

Saya hanya akan merekam atau membuat video tentang apapun yang sedang terlintas di kepala.

Masalah teknis seperti topik video, skrip atau naskah, audio, dll. saya kesampingkan dulu.

Practice Make Perfect.

Ide Ada Di Mana-mana

Ide atau topik untuk video ternyata juga tidak perlu muluk-muluk.

Kegiatan kita sehari-hari atau apa yang sedang kita kerjakan pun bisa menjadi video.

Seperti misalnya, saya yang saat ini mulai membaca ulang ebook #Kerja10Menit

…untuk kemudian saya praktikkan di bisnis saya.

Itupun bisa menjadi sebuah video.

[Full Disclaimer: Sebagai affiliate, saya menerima komisi jika Anda membeli melalui beberapa tautan atau link ini.]

Pakai Peralatan Seadanya

Saya hanya menggunaka kamera di smartphone saya yang harganya tidak ada 2 juta.

Sedangkan untuk mengedit video saya menggunakan Filmora yang kebetulan sudah terinstal di laptop saya.

Malah kadang tidak saya edit sama sekali.

Langsung saya unggah di Youtube.

Share. Jangan Malu.

Kali pertama video pertama saya jadi, saya berpikir berulang kali untuk membagi tautan video saya tersebut di media sosial yang saya miliki.

Saya ragu dan malu.

Bahkan takut jika nanti video saya dibilang jelek lah, terlalu cepet lah, kurang PD lah, dan kurang-kurang yang lain.

Lalu saya memaksakan diri mengunggah video pertama saya di Youtube…

…kemudian membagi tautannya di media sosial yang saya miliki.

Dan hasilnya malah bikin saya tambah semangat.

100 views lebih….

Ini video saya yang tembus 100 views lebih dalam sehari.

Intinya… meski sampai detik ini saya belum berhasil melaksanakan program 100 hari 100 video…

…saya tetap optimis dalam 3 bulan ini akan menghasilkan 100 video.

Ditambah keadaan saat ini yang sebenarnya tidak etis jika disebut mendukung.

Hastag #WorkFromHome, #StayAtHome yang sedang gencar dicanangkan semua orang.

Bahkan pemerintah pun mencanangkan hastag tersebut.

Jadi, mari tetap berkarya.

Apapun keadaannya.

Jadilah Creator.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top